Jumat, 25 Januari 2019

Anggun Jelita

Tema : Pengakuan
Judul : Anggun Jelita
Oleh : Mutiara Matondang
**
Sibolangit, Sumatera Utara merupakan tempat pertama kali aku bertemu dia. Anggun Jelita. Begitu nama pemberian orang tuanya. Kalian pasti berpikir bahwa ia adalah gadis yang anggun, sesuai dengan namanya. Namun, realita yang terjadi adalah ia tak seanggun namanya.
Gadis tangguh selalu ceria dan tak pernah terdengar kalimat keluhan keluar dari bibir manisnya itu menjabat sebagai sekretaris umum UKS. Ia selalu semangat jika diberi tugas-tugas oleh pembina, walaupun terkadang tugas yang itu terbilang berat sekalipun.
Organisasi yang kami ikuti ini merupakan organisasi terbesar dan terkenal di lingkungan dalam dan luar sekolah. Ratusan piagam penghargaan dan piala yang didapatkan dari perlombaan-perlombaan yang diikuti terpampang di seluruh ruang-ruang penting sekolah. Ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan, ruang BK, dan tentunya di UKS sendiri.
Setiap tahunnya, kami mengadakan kegiatan di luar lingkungan sekolah, sebagai upaya pengenalan seluruh alumni-alumni dan para master kepada anggota baru yang telah diseleksi dengan cara yang ketat.
**
Yogyakarta, Oktober 2013
Kubuka aplikasi note di ponsel, membuka file ‘jadwal mata kuliah’.
Terlihat tulisan di layar, Manajemen Kearsipan, Klasifikasi dan Katalogisasi. ‘Berat!’, rutukku dalam hati.
Ketiga mata kuliah ini sebenarnya bukanlah sulit, tetapi harus membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tingkat tinggi.
Ditambah dengan satu fakta yang terjadi di lapangan bahwa mata kuliah ini diampu oleh dosen-dosen ‘killer’ nan tua yang terkenal dengan pelitnya memberikan nilai kepada mahasiswa di kelas semakin membuat mata kuliah ini menyeramkan. Seseram hantu yang muncul jika tengah malam.
Merasa bosan dengan materi yang diajarkan oleh si tua, kubuka aplikasi facebook di ponsel.
Menelusuri setiap kalimat demi kalimat yang lewat di beranda, hingga pada gambar dua orang di sudut kiri atas aplikasi terlihat angka satu berwarna merah.
Terpampang nama seseakun. Anggun Jelita. Nama yang tak asing diingatanku.
Tanpa babibu, tanpa melihat foto profil terlebih dahulu, kutekan tulisan ‘konfirmasi’ di nama tersebut. Selesai. Kututup aplikasi dan kembali fokus pada si tua yang sedang mengajar di depan kami, para mahasiswa.
Neraka hari ini berakhir pukul 18.15 WIB. Mata kuliah ini benar-benar membuat kehilangan banyak energi.
Lelah seharian berkutat dengan buku-buku tebal dengan bahasa Ratu Elizabeth I membuatku harus segera pulang ke kost. Bantal dan kasur empung memenuhi otakku.
Segera kurebahkan tubuh ini di atas kasur dan bantal begitu sampai di kost.
Tak berapa lama, sebuah pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi messenger dari seseakun yang tadi mengirimi permintaan pertemanan kepadaku siang tadi membuatku penasaran.
[Assalamu’alaikum, Kak Radit. Saya Anggun Jelita, sekretaris umum UKS.
Akhir tahun ini, Kakak ada jadwal perkuliahan? Jika tidak ada, sudi kiranya jika Kakak menghadiri acara tahunan organisasi.
Untuk surat undangan para alumni dan master telah saya kirim melalui ‘email’ masing-masing alumni. Untuk itu, saya memohon kepada kakak agar dapat menghadiri acara tahunan ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat, saya selaku perwakilan pengurus mengucapkan terima kasih.
Wassalam.]
Aku sama sekali tak berniat membalas pesan tersebut, lebih memilih tidur agar besoknya dapat menjalani aktivitas dengan penuh semangat.
**
Kesibukan di kampus membuatku lupa dengan pesan yang dikirim oleh Anggun tiga hari yang lalu.
Siang itu, aku yang sedang berada di kantin fakultas tengah menunggu makan siang yang telah aku pesan kepada pramusaji, hingga tiba-tiba ponsel pintarku berdering sekali.
Balon percakapan terpampang di layar ponsel dengan foto artis Korea yang kutak tahu namanya. Kubuka.
Terlihat nama Anggun Jelita mengirim pesan singkat. Isi pesan itu berupa kalimat bujuk rayu agar aku ikut meriahkan acara itu.
Jengah dengan isi pesan beruntun yang dikirim setiap harinya membuatku harus membuat suatu keputusan, setidaknya aku membalas pesan tersebut.
[InsyaAllah, kakak datang,] balasku singkat.
[Alhamdulillah. Tanggal 27 Desember, ya, Kak. Nanti kumpul di sekolah dulu supaya berangkat ke sana sama-sama,] balas Anggun tak berapa lama.
[Iya. InsyaAllah.]
**
Akhirnya, acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua anggota UKS datang juga.
Segala perlengkapan dan peralatan sudah dimasukkan ke dalam bis yang akan membawa kami ke lokasi, Sibolangit.
Bus yang membawa seluruh peserta tiba di lokasi saat matahari tengah berada di atas kepala.
Rangkaian kegiatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya.
Hingga malam tiba, para pengurus berkumpul di satu ruangan khusus untuk membahas kegiatan jurit malam yang akan dilakukan malam ini.
Panitia telah menyiapkan beberapa pos khusus yang harus didatangi oleh para peserta untuk melihat sifat kepemimpinan.
Aku yang di tempatkan di post dua bersanding dengan Anggun. Tak masalah bagiku jika harus bersanding dengan siapa saja.
Pukul 00.00 WIB telah tiba, semua pengurus telah berada di posisi masing-masing. Begitu juga dengan aku dan Anggun.
Suasana amat mencekam dan gelap. Berada di tengah hutan berdua dengan seorang wanita membuatku ciut seketika. Tak ada percakapan yang terjadi di antara kami.
Hingga para peserta datang dan ia pun mulai memberikan beberapa pertanyaan yang telah di susun sebelumnya.
Ternyata, Anggun adalah wanita cerdas dan pintar. Ia mampu mengecoh para peserta yang menjawab pertanyaan dengan asal.
Tanpa kusadari, kedua ujung bibir ini terangkat ke atas. Membentuk suatu senyum. Kagum kepadanya.
**
Sebulan sudah berlalu, aku tetap menjalankan aktivitasku seperti biasa, menjadi seorang mahasiswa dengan segunung laporan perkuliahan yang diberikan oleh dosen-dosen tua.
Komunikasi yang terjalin antara aku dan Anggun semakin berjalan lancar.
Bahkan tak jarang kalimat-kalimat yang kukirim kepadanya terkesan romantis.
Seperti malam ini, aku layangkan kembali kalimat-kalimat perhatian kepadanya,
[Udah makan malam, Dek?]
[Udah, Kak Dit. Kakak udah makan?] balasnya tak lama
[Udah, Sayang] balasku sambil tersenyum.
Membayangkan bila aku mengatakan kalimat tersebut langsung kepadanya, mungkin ia akan tersipu malu dengan rona merah di pipi tembemnya.
Semenit. Dua menit. Hingga lima menit kemudian, tak kunjung balasan darinya kuterima, padahal sudah dibaca olehnya.
Khawatir ia marah dan menjauh dariku, akhirnya mengirim pesan kembali, [Maaf, Dek, kakak udah lancang.]
Rasa sesal muncul di dalam hati ini. ‘Bagaimana jika ia benar-benar marah dan tersinggung dengan ucapanku tadi? Bagaimana jika dia menjauh dariku?’ Beberapa pertanyaan itu muncul dari kepala ini begitu saja.
Keesokan harinya, aku tak mendapatkan balasan apapun darinya. Dia benar-benar marah ternyata.
Tak menyerah begitu saja, kembali kukirim chat kepadanya.
[Dek, besok ada waktu luang, gak?]
[Dek, besok kita ketemu di kafe dekat taman kota, ya. Sekitar jam dua siang.]
[Kakak mau ngomong sesuatu ke Adek]
[Kakak mohon datang ya, Dek]
[Dek]
[Dek]
Enam pesan singkat telah aku kirim ke dia sejak satu jam yang lalu.
Aku tengah berbaring di kasur kost, menunggu pesan balasan darinya. Namun jangankan dibalas, sekadar dibaca pun belum. Padahal sudah ada centang dua berwarna biru di sisi kanan layar ponsel.
**
Ternyata menunggu benar-benar membosankan.
Sejam aku sudah berada di sini. Menunggu kehadiran sosok Anggun-ku.
Kopi hitam sudah kandas dari gelas di hadapanku. Yang tersisa hanyalah beberapa potong kentang goreng.
Kembali kucek ponsel yang terletak di saku celana. 16:00 WIB. Belum ada tanda-tanda kehadirannya.
Akhirnya dengan perasaan kecewa, aku bangkit meninggalkan lokasi.
Namun baru selangkah aku berjalan hingga sosok Anggun berjalan ke arahku. Dia Anggun-ku. Anggun-ku telah datang.
“Maaf, Kak, aku terlambat,” katanya sambil menyembunyikan senyum malu-malu.
“Gapapa, Dek. Duduk dulu.” balasku sambil memegang lengan kanannya, menuntunnya untuk segera duduk di hadapanku.
Sejenak, tak ada di antara kami yang berbicara.
Aku tengah menikmati pemandangan di hadapanku. Anggun tersenyum malu ke arahku. Jantung ini berdebar lebih kencang dari biasanya. Kuraih tangannya dan menggenggamnya erat.
“Dek ... seperti isi pesan yang telah kakak kirim ke Adek. Perasaan kakak ke Adek sungguh. Bukan hanya sekadar kata yang ditujukan lelaki pada biasanya. Ini masalah hati yang tidak bisa di jadikan ajang untuk menyakiti perasaan wanita, tetapi hati ini tulus menyayangimu.” Keringat dingin membasahi membasahi tanganku.
“Kakak sayang sama kamu.” kataku kemudian. Genggaman semakin kueratkan di lengannya. Kutatap wajahnya.
Tetesan air jatuh dari kelopak matanya, mengenai lengan kami yang saling menggenggam.
“Kak Radit ... Aku ... aku ... aku juga sayang sama Kakak.” balasnya dan tetesan air itu jatuh kembali.
Hujan bahagia turun di siang hari kami.
**
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar