Kado Untuk Ibu
Oleh : Mutiara Matondang
Malam semakin larut, aku mulai menikmati alunan nada-nada penghantar tidur yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals-Ibu di radio usang milik ayah. Membawa ingatanku terbang melayang ke peristiwa 2 tahun yang lalu, saat aku memutuskan merantau ke kota untuk menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran ayah yang telah tiada sejak aku duduk di bangku SMA. Ibu yang saat itu tak sepenuhnya rela melepaskan kepergian super hero kecilnya. Ada bulir bening yang keluar dari kelopak matanya, namun tetap berdiri tegar di deretan mobil-mobil besar yang akan membawaku melaju menuju kota.
~
Namaku Bagaskara, aku anak sulung dari 2 bersaudara. Aku lahir dan besar di lingkungan keluarga yang sederhana. Ayah yang bekerja sebagai guru madrasah di kampungku jika pagi dan siang hari, dan sore harinya ayah akan bekerja sebagai tukang becak hingga malam. Semua itu ayah lakukan demi membiayai hidup kami yang serba berkecukupan. Cukup untuk makan sehari-hari dan cukup untuk membiayai pendidikan kami. Sedangkan ibuku hanya pembuat makanan ringan kemudian dijajakan ke warung-warung kecil sekitar kampung.
Aku mempunyai seorang adik yang sangat cantik. Nina namanya. Perbandingan usia kami hanya 7 tahun. Anaknya sangat pintar dalam semua mata pelajaran kecuali olahraga. Namun sayang, adikku ini terlalu pemalas untuk membereskan pekerjaan perempuan.
Saat usiaku 14 tahun, ayah mulai sering sakit. Batuk yang tak kunjung sembuh hampir 1 minggu lamanya, sesak napas , demam dan meriang, bahkan terkadang batuk ayah mengeluarkan darah. Suatu hari, ayah pingsan saat mengajar pagi hari di madrasah dan dibawa ke rumah sakit oleh rekan-rekannya ke kota karena tak kunjung siuman selama 2 jam lamanya sejak pingsan. Saat itu aku benar-benat mengerti bahwa waktu ayah bersama kami di dunia ini takkan lama lagi. Aku sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga pasti akan menggantikan peran ayah sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga dan pelindung keluarga. Selang satu bulan sejak ayah masuk ke rumah sakit, aku yang saat itu baru pulang sekolah bersama Nina mendapati rumah kami di kunjungi banyak orang dan ada bendera merah di depan rumah, serta suara orang mengaji surat yasin. Aku berlari ke dalam rumah dan mendapati ayah yang sudah terbujur kaku di atas tilam dengan mata tertutup dan kulit pucat pasi. Tanpa aku sadari, air mata keluar dari kelopak mataku.
Sejak kepergian ayah, aku mulai membantu ibu menitipkan makanan ringan dan gorengan ke kantin sekolah dan warung-warung kecil. Hasil penjualan gorengan dan makanan ringan itulah yang mencukupi biaya pendidikan dan kebutuhan hidup kami sehari-hari.
~
Aku terbangun saat sinar mentari mulai masuk melalui ventilasi udara dan celah-celah jendela kamar. Mengingat masa-masa dahulu saat bersama ayah, ibu dan Nina di kampung membuatku merindukan kampung halaman dan tak sabar untuk pulang kesana. Namun, aku harus bertahan di kota ini untuk membantu perekonomian keluarga dan biaya pendidikan Nina. Aku bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Aku bekerja sebagai office boy di kota. Dengan semangat berapi-api, aku berangkat ke kantor dengan menggunakan angkot.
~
Berhempit-hempitan di dalam angkot sudah menjadi suatu hal yang biasa bagiku, sebab selama 2 tahun aku tinggal di kota ini dan mulai beradaptasi dengan lingkungan kegiatan yang ada.
Saat angkot sudah melaju setengah perjalanan dari tempat semula aku naik, masuklah seorang ibu dan 2 anaknya. Sejak kedatangan mereka di dalam angkot ini, selalu saja ada yang mereka obrolkan.
"Bu, nanti kalau aku ulang tahun, aku mau dibikin pesta kayak kak amel ya bu." ucap bocah laki-laki yang duduk di depanku.
"Iya, nanti ibu bikin pesta kecil-kecilan kayak kak amel ya." ujar sang ibu
Ulang tahun? Ah ya, aku baru ingat, ibuku 2 hari lagi akan ulang tahun. Kado apa yang akan aku berikan kepada ibu? Apa aku hadiahkan gamis? Mengingat saat lebaran kemarin ibu sama sekali tak menggunakan baju lebaran. Atau mukena? Ya, mukena ibu sudah rapuh. Warnanya tak seputih susu seperti dahulu, bahkan sekarang mukena itu berwarna abu-abu. Tapi dimana aku membeli semua barang-barang tersebut? Aku harus minta bantuan Irene, rekan kerja seperjuangan.
~
"Pagi, Ren." Sapaku ramah.
"Hai, Gas. Pagi juga." ujar Irene
"Semangat sekali kamu hari ini."
"Haha, gue kan anaknya emang selalu semangat. Emang elu pernah liat gue lemes gitu?"
Dia tertawa. Aku suka melihatnya tertawa. Saat ia tertawa, maka sinar matanya yang indah akan membentuk satu garis. Lucu.
"Hmm ... Ren ... Elu mau bantu gue gak? Gue lagi bingung ni."
"Elu kenapa? Belum bayar uang sewa kontrakan?"
"Bukan ... Ibuku ... ibuku 2 hari lagi ulang tahun. Menurut lu, kado yang cocok buat gue kasi ke ibu apa ya?" tanyaku
"Kado buat ibu-ibu yang cocok apa ya? Hmm ..." ia berpikir. Cukup lama ia berpikir dan akhirnya ...
"Haa ... Gue tau!!! Yang lagi dibutuhin ibu lu sekarang apa? Atau apa yang lagi ibu lu ingin-inginkan?" tanyanya.
"Gue gak tau, Ren. Gatau. Ibu kagak pernah cerita dan minta macam-macam ke gue.” jawabku
“Gini saja, besok kita ‘pajak petisah’. Cari baju-baju atau yang lain buat dibeli. Oke.”
“Oke.” aku menyetujui saran Irene.
~
Selama 2 jam kami berkeliling dari toko ke toko demi mencari kado buat ibu tercinta, namun tak ada yang sesuai dengan keinginan dan selera kami berdua. Sampai suatu ketika, Irene menunjuk salah satu toko baju yang didalamnya terdapat baju gamis yang tak terlalu banyak motif dan warna sesuai dengan warna favorit ibu. Kami mendatangi toko tersebut dan melakukan tawar menawar barang dan akhirnya gamis tersebut dapat kami bawa pulang.
~
Setelah meminta izin cuti seminggu ke pihak kantor, akhirnya aku berangkat pulang demi merayakan ulang tahun ibu.
Saat bis sudah mulai memasuki kampung halaman tercinta, maka aku akan berhenti di persimpangan Pamingke, simpang desaku. Perjuangan masih terus berlanjut. Untuk sampai ke rumahku, maka kita harus menempuh jarak sepanjang 16 km dari simpang pamingke tersebut. Namun tenang saja, disini banyak ojek pangkalan yang akan membawa kita ke tempat tujuan, dengan upah bayar hanya 10.000 rupiah saja.
Sesampainya di depan rumah, aku melihat sekeliling. Tak ada ibu dan Nina. Kemana mereka? Pintu rumah terkunci. Aku menunggu selama 1 jam di teras rumah dan mereka akhirnya datang.
“Assalamu’alaikum bu.” aku memberi salam pada ibu
Ku salam ibu dan kupeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang sudah 2 tahun berkecamuk dalam dada ini.
“Bagas ... Kapan kamu sampai nak?” Air matanya mulai tergenang dan mengenai pundak kananku.
~
Keesokan harinya, aku mendatangi ibu dan Nina di dapur sambil membawa kue tart yang aku beli sebelum berangkat ke kota.
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat hari ulang tahun ... selamat ulang tahun ... Ibu.” Aku dan Nina menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ibu.
Lagi dan lagi. Air mata ibu tergenang dan kali ini cukup banyak.
Ku usap air matanya dan kucium pipinya, begitu juga dengan Nina.
“Tunggu disini dulu ya bu, Bagas ada kado buat ibu.” Kataku pada ibu. Dan berlalu meninggalkannya
Tak berapa lama aku kembali dan
“Taraaaaa ... Ini bu kado dari Bagas untuk Ibu.” Aku menyerahkan kota persegi berwarna biru laut kepada ibu
Ibu membuka kotak persegi tersebut dan tersenyum kepadaku.
“Makasih kadonya ya, nak. Tapi alangkah lebih baik jika kado yang kamu berikan ke ibu adalah membawa calon istrimu kesini.”
Ibu melanjutkan, “ibu sudah terlalu tua dan tak sabar ingin melihat super hero ibu bersanding dengan seorang wanita. Bawalah dia, nak. Karena waktu ibu sudah tak lama lagi.”
~
Sejak kepulanganku ke kampung kemarin, aku tak pernah konsentrasi untuk bekerja. Aku tak pernah berteman dengan seorang wanita di kota ini selain Irene. Dan pasti Irene takkan mau denganku yang berprofesi sebagai office boy juga.
Dalam hati aku berkata, “Aku tak tau, bu, apakah aku akan membawa serta kado yang ibu inginkan di tahun depan.”
End